Profil Sekolah
Informasi Lembaga

Profil Lembaga Pendidikan

Sejarah Sekolah

Sejarah Singkat Gereja Masehi Advent Hari Ketujuh

Gereja Masehi Advent Hari Ketujuh memiliki sejarah yang berawal dari sebuah gerakan kebangunan rohani pada abad ke-19. Gerakan ini muncul dari kerinduan umat Kristen untuk memahami nubuatan Alkitab, khususnya mengenai kedatangan Yesus Kristus yang kedua kali.

Cikal bakal Gereja Advent berhubungan erat dengan Gerakan Miller, yaitu sebuah gerakan antar-denominasi yang berkembang pada tahun 1840-an. Gerakan ini dipelopori oleh William Miller, seorang pengkhotbah awam dari Gereja Baptis. Berdasarkan penyelidikannya terhadap nubuatan dalam Daniel 8:14, Miller dan para pengikutnya meyakini bahwa Yesus akan datang kembali pada tanggal 22 Oktober 1844.

Namun, ketika Yesus tidak datang seperti yang mereka harapkan, para pengikut Miller mengalami peristiwa yang dikenal sebagai “Kekecewaan Besar”. Banyak orang meninggalkan gerakan tersebut, tetapi sebagian kecil tetap kembali mempelajari Alkitab dengan sungguh-sungguh. Dari penyelidikan itu, mereka memahami bahwa nubuatan tersebut bukan menunjuk kepada kedatangan Kristus ke bumi pada tahun 1844, melainkan kepada permulaan pelayanan khusus Kristus di surga bagi umat manusia.

Dari kelompok kecil yang tetap setia menantikan kedatangan Tuhan inilah kemudian lahir dasar-dasar ajaran Gereja Masehi Advent Hari Ketujuh. Beberapa tokoh penting dalam perkembangan awal gereja ini antara lain Hiram Edson, James S. White, Ellen G. White, Joseph Bates, dan J. N. Andrews. Ellen G. White kemudian dikenal sebagai penulis, pembicara, dan penasihat rohani yang memberi banyak tuntunan bagi perkembangan gereja.

Pada tahun 1860, kelompok orang percaya ini memilih nama “Gereja Masehi Advent Hari Ketujuh”. Nama ini mencerminkan dua keyakinan penting, yaitu pengharapan akan kedatangan Yesus yang kedua kali dan pemeliharaan hari Sabat hari ketujuh sesuai dengan ajaran Alkitab. Pada tanggal 21 Mei 1863, gereja ini secara resmi diorganisasikan di Battle Creek, Michigan, Amerika Serikat, dengan jumlah anggota sekitar 3.500 orang.

Seiring berjalannya waktu, pekerjaan Gereja Advent berkembang melampaui Amerika Utara. Pada tahun 1874, J. N. Andrews diutus sebagai misionaris Advent pertama ke Swiss. Setelah itu, pekerjaan misi meluas ke berbagai wilayah, termasuk Afrika, Rusia, Kepulauan Pasifik, Amerika Selatan, dan Jepang. Perkembangan ini menunjukkan bahwa Gereja Advent sejak awal memiliki semangat misi untuk membawa pekabaran Injil ke berbagai bangsa.

Publikasi juga menjadi salah satu sarana penting dalam pertumbuhan Gereja Advent. Berbagai majalah dan bahan bacaan diterbitkan untuk menyebarkan ajaran Alkitab dan memperkuat iman jemaat. Beberapa publikasi awal yang penting antara lain The Advent Review and Sabbath Herald, Youth’s Instructor, dan Signs of the Times. Selain itu, gereja juga mengembangkan pelayanan kesehatan, pendidikan, dan Sekolah Sabat sebagai bagian dari pelayanan yang menyeluruh.

Di Indonesia, Gereja Advent mulai hadir pada tahun 1900 melalui seorang misionaris bernama R. W. Munson. Ia menetap di Padang dan dari kota inilah pekabaran Advent mulai berkembang di Indonesia. Kemudian ajaran Advent menyebar ke Tanah Batak melalui Immanuel Siregar. Pada tahun 1904, pekerjaan penginjilan mulai dibuka di Medan.

Di Pulau Jawa, pekabaran Advent mulai disebarkan di Surabaya pada tahun 1906 oleh Sister Petra Tunheim, seorang misionaris dari Australia. Pada tahun 1912, gereja-gereja Advent pertama di Indonesia dibentuk di Sumberwekas, Jawa Timur, dan di Kramat Pulo, Jakarta Pusat. Pekabaran Advent kemudian terus menyebar ke berbagai daerah seperti Minahasa, Maluku, Tapanuli, Lampung, Kalimantan, dan wilayah lainnya.

Pertumbuhan Gereja Advent di Indonesia semakin berkembang pesat. Pada tahun 1929, wilayah Indonesia dilepaskan dari Malayan Union dan menjadi sebuah wilayah “Union” tersendiri. Pada masa itu, jumlah anggota Advent di Indonesia sudah mendekati 3.000 orang. Setelah masa kemerdekaan, pelayanan Gereja Advent semakin meluas ke berbagai pelosok Indonesia.

Pada tahun 1964, karena pertumbuhan yang terus meningkat, Uni Indonesia dibagi menjadi dua wilayah pelayanan, yaitu Uni Indonesia Barat dan Uni Indonesia Timur. Sejak tahun 1970, kedua wilayah ini mulai dipimpin oleh orang Indonesia. Hal ini menunjukkan semakin kuatnya kemandirian dan perkembangan pelayanan Gereja Advent di tanah air.

Dengan demikian, sejarah Gereja Masehi Advent Hari Ketujuh memperlihatkan perjalanan iman yang lahir dari penyelidikan Alkitab, pengalaman rohani, semangat misi, serta komitmen untuk melayani manusia secara menyeluruh. Dari kelompok kecil yang bertumbuh setelah Kekecewaan Besar, Gereja Advent berkembang menjadi gerakan dunia yang menekankan pengharapan akan kedatangan Kristus, kesetiaan kepada firman Tuhan, pelayanan kesehatan, pendidikan, dan penginjilan kepada segala bangsa.